Rabu, 04 Juni 2014

Metamorfosa

Terlahir sebagai buah cinta kedua dari sepasang suami-istri yang saling mencintai satu sama lain, berwajah menawan, dan mengerti yang terbaik untuk kehidupan buah cintanya. Aku, mendapat jatah wajah menggemaskan dengan pipi gembul dan kulit pucat dari Yang Maha Kuasa. Kendatipun pucat, tetap saja aku adalah bayi favorit ibu-ibu sekampung, langganan cubit gemas entah iri karena tak punya anak sepertiku (hehe). Tak jauh berbeda dengan kakakku, ia juga balita favorit dengan wajah kebarat-baratan yang selalu membuat orang-orang kampungku terheran-heran sekaligus berdecak kagum. Perbedaannya disini, aku gagal mempertahankan wajah putih pucat menggemaskanku ketika berstatus seorang balita. Sedangkan kakakku, tetap bertahan dengan predikat kebule-buleannya. Semua berubah ketika aku mulai menyusup dalam kehidupan bermasyarakat, ketika aku pertama kali mengenal makhluk sosial yang akan mengubah segalanya, Teman. Aku lebih suka menghabiskan berjam-jam di sawah hanya untuk melihat teman-teman laki-lakiku bermain layangan. Aku lebih menikmati hembusan angin kencang di puncak-puncak ranting pohon mangga kesayanganku menikmati pemandangan kaampungku, menantang pohon kelapa yang terlihat grogi disapa angin, sampai seseorang menyadari keberadaanku dan meneriakiku di tengah keramaian warungnya, dia nenekku yang nyentrik. Aku lebih tertarik menguji kemampuan berenang gaya anjingku di danau, sampai mana aku mampu bertahan, atau sekedar mengukur kedalaman danau yang sanggup kujangkau, atau sekedar untuk membuktikan keberadaan istana bawah danau yang selama ini menjadi bahan celotehan teman-teman sebayaku. Aku akan berhenti ketika nafasku mulai mangap-mangap, ketika otot-otot tubuhku mulai kram, dan satu-satunya gaya yang berhasil kubuat adalah gaya batu. Ya! Tenggelam dan jadi buah bibir orang sekampung (lagi). Kemudian dimarahi Mama karena kenekatanku dan tentu saja dibela Kakek karena aku anak yang tangguh dengan rasa penasaran tinggi. Daripada bermain ibu-ibuan seperti kakakku, aku lebih memilih menghabiskan hariku menjelajah hutan kecil di kampungku, mengunjungi rumah-rumah burung yang tak sempat kutanyakan mereka jenis apa, sesekali kubawa pulang telur-telur mereka untuk ku adopsi. Tak jarang dalam penjelajahanku, aku bertemu sekelompok anak nakal ketika memasuki kebun seorang warga, penasaran kemudian ikut meloncat-loncat menangkap cengkeh yang tergantung satu meter di atasku tanpa tahu kegunaannya, dan ikut berlari sekencang mungkin ketika mendengar teriakan si empunya. Tak jarang pula aku ikut nyemplung ke dalam got kotor penuh sampah dengan air nyaris kering hanya untuk menangkapi ikan-ikan yang namanya hampir menyerupai namaku  kemudian pulang dengan baju kumal yang sangat dibenci Mama. Ditambah dengan buah tangan yang kubawa, sekeluarga kucing yang kuputuskan akan ku adopsi padahal itu kucing ada pemiliknya 
Semua itu kulakukan tak sendiri, bersama teman-temanku tentunya. Alhasil, kulit putih pucatku berubah menjadi kecoklatan, tubuh gemuk dengan pipi gembulku jadi kurus kering dengan pipi kempot. Tapi satu yang berhasil kupertahankan, rambut panjang hitam legamku yang berhasil bertahan untuk jadi bahan pujian nenek-nenek di kampung 
Umur 10 tahun, aku menyadari kecantikan kakakku sudah mengalami perkembangan pesat. Dia selalu disadari kehadirannya, wajah-wajah sumringah tak habis-habis menyambutnya, selalu membuat mata para pemuda-pemuda kampung terbelalak, jadi rebutan para anak mamak untuk rencana pulang ka bako mereka. Itu pertama kalinya aku iri dalam hidupku, entah setan apa yang berhasil menjajah hatiku saat itu, aku bertekad akan menjadi Sangat Cantik, mengembalikan masa-masa kejayaanku menjadi pipi favorit sasaran cubitan ibu-ibu sekampung. Aku jadi pandai berdandan, merawat kulitku, dan update dengan segala macam trend kemudian menciptakan trend sendiri yang selalu berhasil membuatku jadi pusat perhatian. 3 hari menjadi siswa SMP, aku berhasil tanpa kusadari mencuri hati pacar temanku, membuatnya menyatakan perasaan di tengah keramaian, berhasil memikat si ketua osis yang otomatis menaikkan namaku di sekolah. Kelas 2 SMP, aku berhasil membuat teman-temanku memandangku iri ketika menangkap basah mata para gebetan mereka menatapku terpesona dan berusaha menciptakan percakapan denganku. Entah kenapa, aku menikmati tatapan-tatapan iri tersebut. Dan aku dijauhi teman-teman perempuanku saat itu. Tak jadi masalah bagiku. Aku tipe yang dapat menikmati keadaan apapun, jadi sendiri pun kunikmati. Menjelang Ujian Akhir, aku jatuh cinta pada teman lelaki sekelasku dari kelas satu yang katanya pernah menyukaiku. Oh Tuhan rasanya menyedihkan sekali! Saat yang tidak tepat untuk jatuh cinta. Setelah menamatkan pendidikan SMP, aku sudah dipersiapkan Mama untuk melanjutkan sekolah di SMA ternama di kotaku ( aku pindah ke kota ini ketika kelas 6 SD). Aku tak ambil pusing. Toh aku tak punya proposal brilian untuk menantang proposal mama. Mengantar berkas pendaftaran dengan baju seragam SMP yang ketat, sepatu putih (yang saat itu dilarang oleh panitia pendaftaran), beberapa langkah setelah masuk gerbang SMA tersebut. Segerombolan abang-abang melewatiku, memandang jahat dan melontarkan kata-kata sindiran mengenai gayaku. Aku balas tatapan sengit mereka, kemudian melenggang menyelesaikan urusanku. Kesan pertama sudah buruk. Tapi apadaya, aku diterima menjadi salah satu murid sekolah itu. Disini aku mengenal lebih dalam Islamku, dengan frekuensi pengenalan dan pendalaman terhadap agama jauh lebih besar dari yang sudah-sudah. Aku terhipnotis dengan jilbab-jilbab putih lebar yang memayungi wajah-wajah teduh kakak-kakak kelasku. Aku merasa iri sekali dengan mereka. Hingga suatu saat kucoba membeli jilbab yang menurutku lumayan lebar, dan menggunakannya ke sekolah, kurasa jilbab itu sudah cukup lebar untuk menutupi tubuhku yang tetap saja dibungkus seragam ketat  dan aku merasa berharga dalam jilbab putih lebar itu. Kemudian mulai kugunakan kaus kaki panjang hingga atas lututku untuk menutupi betisku karena kaki-kakiku sering tersingkap ketika berlari menuju kelas karena kebiasaan telatku yang terpaksa dimaklumi guru BK dan wakil kesiswaan saking parahnya. Aku merasa aman saat menggunakannya.
Dari sekedar melewati MU (Misbahul Ulum) untuk ke kantin demi menyelesaikan urusan perut, kemudian mulai nongkrong di depan MU hanya untuk sekedar bercanda dengan teman-temanku, hanya memenuhi kewajiban sholat Dzuhur saja. Kemudian mulai tertarik mencoba Dhuha setelah sekian lama bergelut dengan pemandangan itu. Entah anugerah atau apa yang kudapat saat itu, Dhuha sepertinya meracuniku, menjadi candu bagiku. Tak puas rasanya hanya menunaikan dua rakaat saja, selalu ingin nambah! Dhuha juga yang membuatku merasa mesjid menjadi seperti rumah kedua bagiku. Aku jadi lebih suka menghabiskan waktu istirahatku di MU. Tak jarang, semangat anak nakal yang masih membara dalam tubuhku membuatku membolos pelajaran. Tapi aku bukan menuju kantin, bukan melarikan diri dari sekolah. Aku menghabiskan jam bolosku di MU, mengadu pada Illahi tentang kepenatanku, atau sekedar bermanja-manja padaNya dalam Dhuhaku. 

Semua itu kulakukan tak sendiri, bersama teman-temanku tentunya. Alhasil, kulit putih pucatku berubah menjadi kecoklatan, tubuh gemuk dengan pipi gembulku jadi kurus kering dengan pipi kempot. Tapi satu yang berhasil kupertahankan, rambut panjang hitam legamku yang berhasil bertahan untuk jadi bahan pujian nenek-nenek di kampung 
Umur 10 tahun, aku menyadari kecantikan kakakku sudah mengalami perkembangan pesat. Dia selalu disadari kehadirannya, wajah-wajah sumringah tak habis-habis menyambutnya, selalu membuat mata para pemuda-pemuda kampung terbelalak, jadi rebutan para anak mamak untuk rencana pulang ka bako mereka. Itu pertama kalinya aku iri dalam hidupku, entah setan apa yang berhasil menjajah hatiku saat itu, aku bertekad akan menjadi Sangat Cantik, mengembalikan masa-masa kejayaanku menjadi pipi favorit sasaran cubitan ibu-ibu sekampung. Aku jadi pandai berdandan, merawat kulitku, dan update dengan segala macam trend kemudian menciptakan trend sendiri yang selalu berhasil membuatku jadi pusat perhatian. 3 hari menjadi siswa SMP, aku berhasil tanpa kusadari mencuri hati pacar temanku, membuatnya menyatakan perasaan di tengah keramaian, berhasil memikat si ketua osis yang otomatis menaikkan namaku di sekolah. Kelas 2 SMP, aku berhasil membuat teman-temanku memandangku iri ketika menangkap basah mata para gebetan mereka menatapku terpesona dan berusaha menciptakan percakapan denganku. Entah kenapa, aku menikmati tatapan-tatapan iri tersebut. Dan aku dijauhi teman-teman perempuanku saat itu. Tak jadi masalah bagiku. Aku tipe yang dapat menikmati keadaan apapun, jadi sendiri pun kunikmati. Menjelang Ujian Akhir, aku jatuh cinta pada teman lelaki sekelasku dari kelas satu yang katanya pernah menyukaiku. Oh Tuhan rasanya menyedihkan sekali! Saat yang tidak tepat untuk jatuh cinta. Setelah menamatkan pendidikan SMP, aku sudah dipersiapkan Mama untuk melanjutkan sekolah di SMA ternama di kotaku ( aku pindah ke kota ini ketika kelas 6 SD). Aku tak ambil pusing. Toh aku tak punya proposal brilian untuk menantang proposal mama. Mengantar berkas pendaftaran dengan baju seragam SMP yang ketat, sepatu putih (yang saat itu dilarang oleh panitia pendaftaran), beberapa langkah setelah masuk gerbang SMA tersebut. Segerombolan abang-abang melewatiku, memandang jahat dan melontarkan kata-kata sindiran mengenai gayaku. Aku balas tatapan sengit mereka, kemudian melenggang menyelesaikan urusanku. Kesan pertama sudah buruk. Tapi apadaya, aku diterima menjadi salah satu murid sekolah itu. Disini aku mengenal lebih dalam Islamku, dengan frekuensi pengenalan dan pendalaman terhadap agama jauh lebih besar dari yang sudah-sudah. Aku terhipnotis dengan jilbab-jilbab putih lebar yang memayungi wajah-wajah teduh kakak-kakak kelasku. Aku merasa iri sekali dengan mereka. Hingga suatu saat kucoba membeli jilbab yang menurutku lumayan lebar, dan menggunakannya ke sekolah, kurasa jilbab itu sudah cukup lebar untuk menutupi tubuhku yang tetap saja dibungkus seragam ketat  dan aku merasa berharga dalam jilbab putih lebar itu. Kemudian mulai kugunakan kaus kaki panjang hingga atas lututku untuk menutupi betisku karena kaki-kakiku sering tersingkap ketika berlari menuju kelas karena kebiasaan telatku yang terpaksa dimaklumi guru BK dan wakil kesiswaan saking parahnya. Aku merasa aman saat menggunakannya.
Dari sekedar melewati MU (Misbahul Ulum) untuk ke kantin demi menyelesaikan urusan perut, kemudian mulai nongkrong di depan MU hanya untuk sekedar bercanda dengan teman-temanku, hanya memenuhi kewajiban sholat Dzuhur saja. Kemudian mulai tertarik mencoba Dhuha setelah sekian lama bergelut dengan pemandangan itu. Entah anugerah atau apa yang kudapat saat itu, Dhuha sepertinya meracuniku, menjadi candu bagiku. Tak puas rasanya hanya menunaikan dua rakaat saja, selalu ingin nambah! Dhuha juga yang membuatku merasa mesjid menjadi seperti rumah kedua bagiku. Aku jadi lebih suka menghabiskan waktu istirahatku di MU. Tak jarang, semangat anak nakal yang masih membara dalam tubuhku membuatku membolos pelajaran. Tapi aku bukan menuju kantin, bukan melarikan diri dari sekolah. Aku menghabiskan jam bolosku di MU, mengadu pada Illahi tentang kepenatanku, atau sekedar bermanja-manja padaNya dalam Dhuhaku. 
Semua itu kulakukan tak sendiri, bersama teman-temanku tentunya. Alhasil, kulit putih pucatku berubah menjadi kecoklatan, tubuh gemuk dengan pipi gembulku jadi kurus kering dengan pipi kempot. Tapi satu yang berhasil kupertahankan, rambut panjang hitam legamku yang berhasil bertahan untuk jadi bahan pujian nenek-nenek di kampung 
Umur 10 tahun, aku menyadari kecantikan kakakku sudah mengalami perkembangan pesat. Dia selalu disadari kehadirannya, wajah-wajah sumringah tak habis-habis menyambutnya, selalu membuat mata para pemuda-pemuda kampung terbelalak, jadi rebutan para anak mamak untuk rencana pulang ka bako mereka. Itu pertama kalinya aku iri dalam hidupku, entah setan apa yang berhasil menjajah hatiku saat itu, aku bertekad akan menjadi Sangat Cantik, mengembalikan masa-masa kejayaanku menjadi pipi favorit sasaran cubitan ibu-ibu sekampung. Aku jadi pandai berdandan, merawat kulitku, dan update dengan segala macam trend kemudian menciptakan trend sendiri yang selalu berhasil membuatku jadi pusat perhatian. 3 hari menjadi siswa SMP, aku berhasil tanpa kusadari mencuri hati pacar temanku, membuatnya menyatakan perasaan di tengah keramaian, berhasil memikat si ketua osis yang otomatis menaikkan namaku di sekolah. Kelas 2 SMP, aku berhasil membuat teman-temanku memandangku iri ketika menangkap basah mata para gebetan mereka menatapku terpesona dan berusaha menciptakan percakapan denganku. Entah kenapa, aku menikmati tatapan-tatapan iri tersebut. Dan aku dijauhi teman-teman perempuanku saat itu. Tak jadi masalah bagiku. Aku tipe yang dapat menikmati keadaan apapun, jadi sendiri pun kunikmati. Menjelang Ujian Akhir, aku jatuh cinta pada teman lelaki sekelasku dari kelas satu yang katanya pernah menyukaiku. Oh Tuhan rasanya menyedihkan sekali! Saat yang tidak tepat untuk jatuh cinta. Setelah menamatkan pendidikan SMP, aku sudah dipersiapkan Mama untuk melanjutkan sekolah di SMA ternama di kotaku ( aku pindah ke kota ini ketika kelas 6 SD). Aku tak ambil pusing. Toh aku tak punya proposal brilian untuk menantang proposal mama. Mengantar berkas pendaftaran dengan baju seragam SMP yang ketat, sepatu putih (yang saat itu dilarang oleh panitia pendaftaran), beberapa langkah setelah masuk gerbang SMA tersebut. Segerombolan abang-abang melewatiku, memandang jahat dan melontarkan kata-kata sindiran mengenai gayaku. Aku balas tatapan sengit mereka, kemudian melenggang menyelesaikan urusanku. Kesan pertama sudah buruk. Tapi apadaya, aku diterima menjadi salah satu murid sekolah itu. Disini aku mengenal lebih dalam Islamku, dengan frekuensi pengenalan dan pendalaman terhadap agama jauh lebih besar dari yang sudah-sudah. Aku terhipnotis dengan jilbab-jilbab putih lebar yang memayungi wajah-wajah teduh kakak-kakak kelasku. Aku merasa iri sekali dengan mereka. Hingga suatu saat kucoba membeli jilbab yang menurutku lumayan lebar, dan menggunakannya ke sekolah, kurasa jilbab itu sudah cukup lebar untuk menutupi tubuhku yang tetap saja dibungkus seragam ketat  dan aku merasa berharga dalam jilbab putih lebar itu. Kemudian mulai kugunakan kaus kaki panjang hingga atas lututku untuk menutupi betisku karena kaki-kakiku sering tersingkap ketika berlari menuju kelas karena kebiasaan telatku yang terpaksa dimaklumi guru BK dan wakil kesiswaan saking parahnya. Aku merasa aman saat menggunakannya. 
Dari sekedar melewati MU (Misbahul Ulum) untuk ke kantin demi menyelesaikan urusan perut, kemudian mulai nongkrong di depan MU hanya untuk sekedar bercanda dengan teman-temanku, hanya memenuhi kewajiban sholat Dzuhur saja. Kemudian mulai tertarik mencoba Dhuha setelah sekian lama bergelut dengan pemandangan itu. Entah anugerah atau apa yang kudapat saat itu, Dhuha sepertinya meracuniku, menjadi candu bagiku. Tak puas rasanya hanya menunaikan dua rakaat saja, selalu ingin nambah! Dhuha juga yang membuatku merasa mesjid menjadi seperti rumah kedua bagiku. Aku jadi lebih suka menghabiskan waktu istirahatku di MU. Tak jarang, semangat anak nakal yang masih membara dalam tubuhku membuatku membolos pelajaran. Tapi aku bukan menuju kantin, bukan melarikan diri dari sekolah. Aku menghabiskan jam bolosku di MU, mengadu pada Illahi tentang kepenatanku, atau sekedar bermanja-manja padaNya dalam Dhuhaku. 
Semua itu kulakukan tak sendiri, bersama teman-temanku tentunya. Alhasil, kulit putih pucatku berubah menjadi kecoklatan, tubuh gemuk dengan pipi gembulku jadi kurus kering dengan pipi kempot. Tapi satu yang berhasil kupertahankan, rambut panjang hitam legamku yang berhasil bertahan untuk jadi bahan pujian nenek-nenek di kampung 
Umur 10 tahun, aku menyadari kecantikan kakakku sudah mengalami perkembangan pesat. Dia selalu disadari kehadirannya, wajah-wajah sumringah tak habis-habis menyambutnya, selalu membuat mata para pemuda-pemuda kampung terbelalak, jadi rebutan para anak mamak untuk rencana pulang ka bako mereka. Itu pertama kalinya aku iri dalam hidupku, entah setan apa yang berhasil menjajah hatiku saat itu, aku bertekad akan menjadi Sangat Cantik, mengembalikan masa-masa kejayaanku menjadi pipi favorit sasaran cubitan ibu-ibu sekampung. Aku jadi pandai berdandan, merawat kulitku, dan update dengan segala macam trend kemudian menciptakan trend sendiri yang selalu berhasil membuatku jadi pusat perhatian. 3 hari menjadi siswa SMP, aku berhasil tanpa kusadari mencuri hati pacar temanku, membuatnya menyatakan perasaan di tengah keramaian, berhasil memikat si ketua osis yang otomatis menaikkan namaku di sekolah. Kelas 2 SMP, aku berhasil membuat teman-temanku memandangku iri ketika menangkap basah mata para gebetan mereka menatapku terpesona dan berusaha menciptakan percakapan denganku. Entah kenapa, aku menikmati tatapan-tatapan iri tersebut. Dan aku dijauhi teman-teman perempuanku saat itu. Tak jadi masalah bagiku. Aku tipe yang dapat menikmati keadaan apapun, jadi sendiri pun kunikmati. Menjelang Ujian Akhir, aku jatuh cinta pada teman lelaki sekelasku dari kelas satu yang katanya pernah menyukaiku. Oh Tuhan rasanya menyedihkan sekali! Saat yang tidak tepat untuk jatuh cinta. Setelah menamatkan pendidikan SMP, aku sudah dipersiapkan Mama untuk melanjutkan sekolah di SMA ternama di kotaku ( aku pindah ke kota ini ketika kelas 6 SD). Aku tak ambil pusing. Toh aku tak punya proposal brilian untuk menantang proposal mama. Mengantar berkas pendaftaran dengan baju seragam SMP yang ketat, sepatu putih (yang saat itu dilarang oleh panitia pendaftaran), beberapa langkah setelah masuk gerbang SMA tersebut. Segerombolan abang-abang melewatiku, memandang jahat dan melontarkan kata-kata sindiran mengenai gayaku. Aku balas tatapan sengit mereka, kemudian melenggang menyelesaikan urusanku. Kesan pertama sudah buruk. Tapi apadaya, aku diterima menjadi salah satu murid sekolah itu. Disini aku mengenal lebih dalam Islamku, dengan frekuensi pengenalan dan pendalaman terhadap agama jauh lebih besar dari yang sudah-sudah. Aku terhipnotis dengan jilbab-jilbab putih lebar yang memayungi wajah-wajah teduh kakak-kakak kelasku. Aku merasa iri sekali dengan mereka. Hingga suatu saat kucoba membeli jilbab yang menurutku lumayan lebar, dan menggunakannya ke sekolah, kurasa jilbab itu sudah cukup lebar untuk menutupi tubuhku yang tetap saja dibungkus seragam ketat  dan aku merasa berharga dalam jilbab putih lebar itu. Kemudian mulai kugunakan kaus kaki panjang hingga atas lututku untuk menutupi betisku karena kaki-kakiku sering tersingkap ketika berlari menuju kelas karena kebiasaan telatku yang terpaksa dimaklumi guru BK dan wakil kesiswaan saking parahnya. Aku merasa aman saat menggunakannya. 
Dari sekedar melewati MU (Misbahul Ulum) untuk ke kantin demi menyelesaikan urusan perut, kemudian mulai nongkrong di depan MU hanya untuk sekedar bercanda dengan teman-temanku, hanya memenuhi kewajiban sholat Dzuhur saja. Kemudian mulai tertarik mencoba Dhuha setelah sekian lama bergelut dengan pemandangan itu. Entah anugerah atau apa yang kudapat saat itu, Dhuha sepertinya meracuniku, menjadi candu bagiku. Tak puas rasanya hanya menunaikan dua rakaat saja, selalu ingin nambah! Dhuha juga yang membuatku merasa mesjid menjadi seperti rumah kedua bagiku. Aku jadi lebih suka menghabiskan waktu istirahatku di MU. Tak jarang, semangat anak nakal yang masih membara dalam tubuhku membuatku membolos pelajaran. Tapi aku bukan menuju kantin, bukan melarikan diri dari sekolah. Aku menghabiskan jam bolosku di MU, mengadu pada Illahi tentang kepenatanku, atau sekedar bermanja-manja padaNya dalam Dhuhaku. 
Semua itu kulakukan tak sendiri, bersama teman-temanku tentunya. Alhasil, kulit putih pucatku berubah menjadi kecoklatan, tubuh gemuk dengan pipi gembulku jadi kurus kering dengan pipi kempot. Tapi satu yang berhasil kupertahankan, rambut panjang hitam legamku yang berhasil bertahan untuk jadi bahan pujian nenek-nenek di kampung 
Umur 10 tahun, aku menyadari kecantikan kakakku sudah mengalami perkembangan pesat. Dia selalu disadari kehadirannya, wajah-wajah sumringah tak habis-habis menyambutnya, selalu membuat mata para pemuda-pemuda kampung terbelalak, jadi rebutan para anak mamak untuk rencana pulang ka bako mereka. Itu pertama kalinya aku iri dalam hidupku, entah setan apa yang berhasil menjajah hatiku saat itu, aku bertekad akan menjadi Sangat Cantik, mengembalikan masa-masa kejayaanku menjadi pipi favorit sasaran cubitan ibu-ibu sekampung. Aku jadi pandai berdandan, merawat kulitku, dan update dengan segala macam trend kemudian menciptakan trend sendiri yang selalu berhasil membuatku jadi pusat perhatian. 3 hari menjadi siswa SMP, aku berhasil tanpa kusadari mencuri hati pacar temanku, membuatnya menyatakan perasaan di tengah keramaian, berhasil memikat si ketua osis yang otomatis menaikkan namaku di sekolah. Kelas 2 SMP, aku berhasil membuat teman-temanku memandangku iri ketika menangkap basah mata para gebetan mereka menatapku terpesona dan berusaha menciptakan percakapan denganku. Entah kenapa, aku menikmati tatapan-tatapan iri tersebut. Dan aku dijauhi teman-teman perempuanku saat itu. Tak jadi masalah bagiku. Aku tipe yang dapat menikmati keadaan apapun, jadi sendiri pun kunikmati. Menjelang Ujian Akhir, aku jatuh cinta pada teman lelaki sekelasku dari kelas satu yang katanya pernah menyukaiku. Oh Tuhan rasanya menyedihkan sekali! Saat yang tidak tepat untuk jatuh cinta. Setelah menamatkan pendidikan SMP, aku sudah dipersiapkan Mama untuk melanjutkan sekolah di SMA ternama di kotaku ( aku pindah ke kota ini ketika kelas 6 SD). Aku tak ambil pusing. Toh aku tak punya proposal brilian untuk menantang proposal mama. Mengantar berkas pendaftaran dengan baju seragam SMP yang ketat, sepatu putih (yang saat itu dilarang oleh panitia pendaftaran), beberapa langkah setelah masuk gerbang SMA tersebut. Segerombolan abang-abang melewatiku, memandang jahat dan melontarkan kata-kata sindiran mengenai gayaku. Aku balas tatapan sengit mereka, kemudian melenggang menyelesaikan urusanku. Kesan pertama sudah buruk. Tapi apadaya, aku diterima menjadi salah satu murid sekolah itu. Disini aku mengenal lebih dalam Islamku, dengan frekuensi pengenalan dan pendalaman terhadap agama jauh lebih besar dari yang sudah-sudah. Aku terhipnotis dengan jilbab-jilbab putih lebar yang memayungi wajah-wajah teduh kakak-kakak kelasku. Aku merasa iri sekali dengan mereka. Hingga suatu saat kucoba membeli jilbab yang menurutku lumayan lebar, dan menggunakannya ke sekolah, kurasa jilbab itu sudah cukup lebar untuk menutupi tubuhku yang tetap saja dibungkus seragam ketat  dan aku merasa berharga dalam jilbab putih lebar itu. Kemudian mulai kugunakan kaus kaki panjang hingga atas lututku untuk menutupi betisku karena kaki-kakiku sering tersingkap ketika berlari menuju kelas karena kebiasaan telatku yang terpaksa dimaklumi guru BK dan wakil kesiswaan saking parahnya. Aku merasa aman saat menggunakannya. 
Dari sekedar melewati MU (Misbahul Ulum) untuk ke kantin demi menyelesaikan urusan perut, kemudian mulai nongkrong di depan MU hanya untuk sekedar bercanda dengan teman-temanku, hanya memenuhi kewajiban sholat Dzuhur saja. Kemudian mulai tertarik mencoba Dhuha setelah sekian lama bergelut dengan pemandangan itu. Entah anugerah atau apa yang kudapat saat itu, Dhuha sepertinya meracuniku, menjadi candu bagiku. Tak puas rasanya hanya menunaikan dua rakaat saja, selalu ingin nambah! Dhuha juga yang membuatku merasa mesjid menjadi seperti rumah kedua bagiku. Aku jadi lebih suka menghabiskan waktu istirahatku di MU. Tak jarang, semangat anak nakal yang masih membara dalam tubuhku membuatku membolos pelajaran. Tapi aku bukan menuju kantin, bukan melarikan diri dari sekolah. Aku menghabiskan jam bolosku di MU, mengadu pada Illahi tentang kepenatanku, atau sekedar bermanja-manja padaNya dalam Dhuhaku. 



0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright Just A Scratch! 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .