
ini kucing gue jantan, maksa banget ya gue kasih dia gaun :'
Lagipula, angkot oren sudah menggodaku untuk menghampirinya. Tak berniat meminta kenangan kembali bercerita dan sepertinya angkot oren sepaham denganku. Angkot oren lebih memilih berkonsentrasi menghinakan jalanan, berlomba dengan sesama angkot oren memperebutkan posisi pertama di lampu merah. Meminta supir angkot menepi di depan sebuah gedung yang terlihat seperti babi kekenyangan. Kali ini setelah sedikit basa-basi aku duduk di dalam sebuah innova, bukan punya pacarku, aku membayar untuk dapat duduk di bangkunya, berharap innova ini bergegas membawaku pergi meninggalkan kota yang setiap tahun di php oleh isu tsunami ini. Memaksa menutup mataku agar musik yang mulai mengalun seiring deru halus mesin tak sempat merengek pada kenangan untuk kembali bercerita.

i saw him for the first in the middle of april, maybe on 10 or 17 :3
Terlahir sebagai buah cinta kedua dari sepasang suami-istri yang saling mencintai satu sama lain, berwajah menawan, dan mengerti yang terbaik untuk kehidupan buah cintanya. Aku, mendapat jatah wajah menggemaskan dengan pipi gembul dan kulit pucat dari Yang Maha Kuasa. Kendatipun pucat, tetap saja aku adalah bayi favorit ibu-ibu sekampung, langganan cubit gemas entah iri karena tak punya anak sepertiku (hehe). Tak jauh berbeda dengan kakakku, ia juga balita favorit dengan wajah kebarat-baratan yang selalu membuat orang-orang kampungku terheran-heran sekaligus berdecak kagum. Perbedaannya disini, aku gagal mempertahankan wajah putih pucat menggemaskanku ketika berstatus seorang balita. Sedangkan kakakku, tetap bertahan dengan predikat kebule-buleannya. Semua berubah ketika aku mulai menyusup dalam kehidupan bermasyarakat, ketika aku pertama kali mengenal makhluk sosial yang akan mengubah segalanya, Teman. Aku lebih suka menghabiskan berjam-jam di sawah hanya untuk melihat teman-teman laki-lakiku bermain layangan. Aku lebih menikmati hembusan angin kencang di puncak-puncak ranting pohon mangga kesayanganku menikmati pemandangan kaampungku, menantang pohon kelapa yang terlihat grogi disapa angin, sampai seseorang menyadari keberadaanku dan meneriakiku di tengah keramaian warungnya, dia nenekku yang nyentrik. Aku lebih tertarik menguji kemampuan berenang gaya anjingku di danau, sampai mana aku mampu bertahan, atau sekedar mengukur kedalaman danau yang sanggup kujangkau, atau sekedar untuk membuktikan keberadaan istana bawah danau yang selama ini menjadi bahan celotehan teman-teman sebayaku. Aku akan berhenti ketika nafasku mulai mangap-mangap, ketika otot-otot tubuhku mulai kram, dan satu-satunya gaya yang berhasil kubuat adalah gaya batu. Ya! Tenggelam dan jadi buah bibir orang sekampung (lagi). Kemudian dimarahi Mama karena kenekatanku dan tentu saja dibela Kakek karena aku anak yang tangguh dengan rasa penasaran tinggi. Daripada bermain ibu-ibuan seperti kakakku, aku lebih memilih menghabiskan hariku menjelajah hutan kecil di kampungku, mengunjungi rumah-rumah burung yang tak sempat kutanyakan mereka jenis apa, sesekali kubawa pulang telur-telur mereka untuk ku adopsi. Tak jarang dalam penjelajahanku, aku bertemu sekelompok anak nakal ketika memasuki kebun seorang warga, penasaran kemudian ikut meloncat-loncat menangkap cengkeh yang tergantung satu meter di atasku tanpa tahu kegunaannya, dan ikut berlari sekencang mungkin ketika mendengar teriakan si empunya. Tak jarang pula aku ikut nyemplung ke dalam got kotor penuh sampah dengan air nyaris kering hanya untuk menangkapi ikan-ikan yang namanya hampir menyerupai namaku kemudian pulang dengan baju kumal yang sangat dibenci Mama. Ditambah dengan buah tangan yang kubawa, sekeluarga kucing yang kuputuskan akan ku adopsi padahal itu kucing ada pemiliknya 