Aku masih ingat bagaimana aku harus memakai celana olahraga SMPku yang sudah kusam.dan robek di kelas 2 SMA karena celana olahraga seragam SMAku tak tahu rimbanya kemana. Saat itu keluargaku menggunakan jasa tukang cuci. Aku tak percaya tante itu yang menghilangkan, dia begitu teliti. Sengaja? Tak mungkin, dia sangat baik kepada keluarga kami. Saat itu yang terpikir olehku adalah salahku kehilangan celana ini. Karena aku memang orangnya pelupa sekali. Dan kutemukan celana itu menjelang kenaikan kelas terselip diantara barang-barang bekas, penuh debu, lembab.
Aku masih ingat bagaimana rasanya menemukan sobekan kecil dari novel kesayangan sahabatku yang kupinjam untuk beberapa hari saja. Hanya sobekan itu yang dapat jadi bukti bahwa novel itu pernah ada. Terbayang wajah berseri-seri sahabatku itu ketika mengekspresikan Kecintaannya pada novel tersebut. Tak sanggup kubayangkan kecewanya jika tahu apa yang sebenarnya terjadi pada cintanya. Untuk cinta yang terbunuh itu, telah kuobrak-abrik semua toko buku di kotaku untuk menemukan kembarannya. Kusisir tumpukan novel bekas di tukang loak berharap menemukan tubuh dari sobekan nyawa itu. Nihil. Dan untuk itu aku harus rela hanya memandang sahabatku dari jauh hampir setahun. Dia menjauhiku. Bayangkan, teman pertamamu di dunia ini menjauhimu. Dan itu sebenarnya harga yang terlalu murah yang kudappat untuk sebuah kesalahan sebesar itu.
Dan hari ini, aku mendapat ancaman akan kehilangan lagi. Setelah teror-teror kecil pemanasan yang dipertontonkannya. Mulai dari peralatan makanku yang hilang, kemudian sendal jepitku, lalu entah apa lagi. Dan ancaman itu seperti menekan tombol play kemudian peristiwa-peristiwa itu berkelebat lagi di benakku. Sungguh, aku tak ada niat sama sekali menemukan pelakunya, dan tidak ingin dendam. Rasanya tak penting, sangat tidak penting. Siapapun kamu, tolong berhenti. Aku, kamu, dan apapun diantara kita, telah beranjak dewasa. Ini kekanakan sekali.
Selasa, 28 Oktober 2014
Langganan:
Postingan (Atom)
