Selasa, 28 Oktober 2014

tak ada

Aku masih ingat bagaimana aku harus memakai celana olahraga SMPku yang sudah kusam.dan robek di kelas 2 SMA karena celana olahraga seragam SMAku tak tahu rimbanya kemana. Saat itu keluargaku menggunakan jasa tukang cuci. Aku tak percaya tante itu yang menghilangkan, dia begitu teliti. Sengaja? Tak mungkin, dia sangat baik kepada keluarga kami. Saat itu yang terpikir olehku adalah salahku kehilangan celana ini. Karena aku memang orangnya pelupa sekali. Dan kutemukan celana itu menjelang kenaikan kelas terselip diantara barang-barang bekas, penuh debu, lembab.
Aku masih ingat bagaimana rasanya menemukan sobekan kecil dari novel kesayangan sahabatku yang kupinjam untuk beberapa hari saja. Hanya sobekan itu yang dapat jadi bukti bahwa novel itu pernah ada. Terbayang wajah berseri-seri sahabatku itu ketika mengekspresikan Kecintaannya pada novel tersebut. Tak sanggup kubayangkan kecewanya jika tahu apa yang sebenarnya terjadi pada cintanya. Untuk cinta yang terbunuh itu, telah kuobrak-abrik semua toko buku di kotaku untuk menemukan kembarannya. Kusisir tumpukan novel bekas di tukang loak berharap menemukan tubuh dari sobekan nyawa itu. Nihil. Dan untuk itu aku harus rela hanya memandang sahabatku dari jauh hampir setahun. Dia menjauhiku. Bayangkan, teman pertamamu di dunia ini menjauhimu. Dan itu sebenarnya harga yang terlalu murah yang kudappat untuk sebuah kesalahan sebesar itu.
Dan hari ini, aku mendapat ancaman akan kehilangan lagi. Setelah teror-teror kecil pemanasan yang dipertontonkannya. Mulai dari peralatan makanku yang hilang, kemudian sendal jepitku, lalu entah apa lagi. Dan ancaman itu seperti menekan tombol play kemudian peristiwa-peristiwa itu berkelebat lagi di benakku. Sungguh, aku tak ada niat sama sekali menemukan pelakunya, dan tidak ingin dendam. Rasanya tak penting, sangat tidak penting. Siapapun kamu, tolong berhenti. Aku, kamu, dan apapun diantara kita, telah beranjak dewasa. Ini kekanakan sekali.

Jumat, 05 September 2014

?

Banyak sekali... Yang tertahan, kemudian terlupakan.
Tenggelam di dasar waktu. Bisu terhimpit keadaan yang berbaik hati. Tak ada yang mendengar.
Mereka terkurung.. Dibalik jeruji yang terbuat dari senyum tegar. Siapa yang melihat. Walau senyum itu berbentuk bulan sabit. Walau senyum itu memiliki celah. Mereka seperti tak kasat mata.
Kehadirannya... Tak ada yang berharap. Sosoknya mengundang dosa. Selalu dihampiri sumpah serapah memilu hati.
Dia lenyap... Tak satupun yang tahu. Siapa juga yang mau tahu. Benar-benar lenyap atau sekedar bersembunyi, bukanlah cerita menarik. Biar dia bersembunyi. Biar dia terlupakan dengan persembunyiannya. Biar dia lapuk dalam persembunyiannya.  Menyatu dengan ketiadaan.

Rabu, 04 Juni 2014

named Jeriko Widodo

Photo: Kokoo >.< :3 :* ({})
ini kucing gue jantan, maksa banget ya gue kasih dia gaun :'

Ini sebenernya cuma curcolan gue tentang perjalanan pulang dari kos ke rumahh _-_

Dan hentakan-hentakan keras musik angkot hijau memaksa membangunkan kenangan yang tertidur, merengek agar kenangan kembali bercerita. Kenangan mengiyakan, bercerita, berusaha menampilkan potongan-potongan film terbaiknya. Cerita mulai kacau ketika angkot memutuskan masuk jalan belakang, hiruk pikuk pasar seolah berusaha membumbui cerita, bau busuk tak mau kalah berusaha merusak adegan romantis yang sedang diputar kenangan. Kenangan merajuk, tak mau lagi melanjutkan cerita. Aku putuskan untuk berjalan kaki. Melirik patung-patung tak berkepala dengan pakaian terbaik mereka, kemudian membuang muka dengan pandangan meremehkan, aku jauh lebih keren! Menyusun rencana-rencana brilian pengeluaran minggu depan, kemudian melempar pandangan membunuh pada seonggok besi hitam mengkilat yang entah kenapa ikut tawar-menawar di tengah pasar raya ini  segera tertarik pada pose-pose unik pengemis di keramaian sore itu, semua makhluk tak peduli, mereka seolah tak kasat mata, kenapa kalian harus berpose? Terbersit niat untuk berbagi tapi kembali diurung, karena jangkauan terdekat hanya empat ribu sembilan ratusku yang sangat berharga. Maaf, tapi ini dari Yang Kucintai. 
Lagipula, angkot oren sudah menggodaku untuk menghampirinya. Tak berniat meminta kenangan kembali bercerita dan sepertinya angkot oren sepaham denganku. Angkot oren lebih memilih berkonsentrasi menghinakan jalanan, berlomba dengan sesama angkot oren memperebutkan posisi pertama di lampu merah. Meminta supir angkot menepi di depan sebuah gedung yang terlihat seperti babi kekenyangan. Kali ini setelah sedikit basa-basi aku duduk di dalam sebuah innova, bukan punya pacarku, aku membayar untuk dapat duduk di bangkunya, berharap innova ini bergegas membawaku pergi meninggalkan kota yang setiap tahun di php oleh isu tsunami ini. Memaksa menutup mataku agar musik yang mulai mengalun seiring deru halus mesin tak sempat merengek pada kenangan untuk kembali bercerita.

Bodohnya!

06:17, Si Gadis berusaha memisahkan kelopak matanya yang sempurna menyatu setelah percakapan-percakapan bisu tak penting tengah malam dengan pria bodoh yang berhasil meronakan pipinya beberapa hari ini. "Masih gelap" lirihnya mengintip melalui tirai jendela yang sedikit tersingkap. Padahal yang dilirik hanyalah sebuah selendang hitam yang bergelayut manja di jemuran depan kamar si Gadis. 06:23, si Gadis mendudukan diri seketika sambil berusaha memfokuskan pikiran ditengah peningnya setelah dimabuk kata-kata cinta si Bodoh Kesayangannya semalam. "Kelas Hukum Perdata jam setengah delapan!" Tandasnya histeris, entah kekuatan apa yang merasuki tubuh ringkih gadis itu, ia panik menyambar handuk dan berlari serabutan ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, kembali ia tersenyum simpul memandang lubang toilet terbayang wajah prianya. Sungguh! Cinta benar-benar suatu pembodohan yang indah!07:11, mematut dirinya di hadapan sebuah cermin mengenakan rok Batik pemberian si Bodoh, kepalanya sibuk mengarang pujian-pujian betapa elok dirinya dan membayangkan pujian-pujian tersebut datang dari bibir Pria Bodohnya, yang akan menemuinya ketika matahari mulai lelah menggersangkan Padang. 07:16, bayangan-bayangan indah tadi buyar ketika si Gadis memandangi penunjuk waktu di telepon genggamnya, sempat juga ia termenung di depan rak sepatu, "wedges atau sneaker?" Gumamnya dengan wedges dan sneaker menari berputar menggoda di atas kepalanya. Sneaker! Putusnya menyorong kaki ke dalam sneaker andalan, masih berusaha berjalan anggun dengan imajinasi-imajinasi wajah dosen baru mematut dirinya di depan kelas, membunuhnya hanya dengan pandangan 'kenapa terlambat' sang Dosen. Imajinasi-imajinasi kreatifnya ternyata hanya dibayar kursi kosong Sang Dosen
sepanjang pagi itu, apa daya. Si Gadis pulang, menyusun rencana brilian tidur siangnya mengingat kuliah kedua jam satu nanti.
Kembali semangat membaranya hanya terbayar wajah-wajah kecewa teman-teman sekelasnya siang itu. Si Gadis melongokkan kepalanya ke dalam kelas, kursi kosong Sang Dosen berhasil membalikkan tubuh si Gadis dengan kebekuannya. Si Gadis mengiyakan Ajakan seorang teman untuk menjagai rumah kedua mereka yang sedang diwarnai pria-pria baik hati entah darimana bersama tiga orang teman lainnya. Mengunyah gorengan Mandeh dan menyeruput segelas Coklat dingin tampaknya keputusan yang tepat untuk membunuh angka tiga di jam dinding, dan jarum jam akan dengan senang hati melompat ke angka empat. 16:03, tak ada kabar, sebuah PING!!! Dilayangkan si Gadis kepada Pria Bodoh Tercintanya, begitupun belasan PING!!! Selanjutnya. Undelive~ Pulang saja, dengus Si Gadis kecewa. 17:11, si Gadis kembali memandang layar telepon genggamnya dengan harapan mulai memudar seiring pudarnya dandanan paginya. "Ini yang ketiga, kali ini mati Kau!" Umpatnya membayangkan wajah si Bodohnya, memuakkan!

Apresiasi untuk MAMA :*


Aku yakin sekali, Mamaku adalah Mama terrrcantik terrrhebat terrrkeren diantara Mama-Mama tercantik terhebat terkeren di seluruh dunia ({}) Mama bangun pagi-pagi sekali berteriak mengalahkan ayam jago pak RT agar kami segera bangun dan mengejar mimpi kami. Mama sudah terbiasa menyiapkan sarapan kami sekaligus berdandan di pagi hari sebelum Beliau berkutat dengan laporan-laporan keuangannya tanpa salah memasukkan bubuk blush on ke gelas-gelas susu kami. Mama bahkan tak lupa menghalau kami ke kamar mandi di saat menyuapi bunga-bunga kesayangannya. Bukan perkara sulit bagi Mama memasak rendang, gulai ayam, ikan bakar, tanpa ketinggalan episode sinetron favoritnya. Pedagang cabe langganan Mama bahkan menyerah pada harga yang Mama inginkan ketika Mama sibuk memilah ayam mana yang akan kami santap nanti malam. Mama tak akan pernah dengan mudahnya lupa menanyai laporan jajanku minggu ini walau sedang mengawasi adikku yang bungsu memanjat atap rumah kami sekalipun  aku tak tau Mama punya sumber darimana, yang pasti Mama selalu update mengenai cowok yang sedang dekat denganku  Lucunya ekspresi Panik skala Awas Mama ketika menemukan foto aku bersama seorang lelaki di telepon genggamku padahal aku bisa pastikan kami berjarak 10,42 sentimeter di foto itu  Mama dapat dengan mudahnya memberi keputusan yang sangat keren ketika aku sedang panik memilih pakaian apa yang pantas kugunakan untuk menemui lelaki yang harus kutakhlukan  kemudian akan dengan sangat jelinya menilai lelaki yang menjemputku tanpa lelaki itu sadari. Aku bangga sekali berjalan di samping Mamaku dengan style keren ala 20annya sementara Mama-Mama lain sibuk mendandani diri mereka agar selaras dengan umur mereka. Aku tahu Mama sangat menyeleksi apa-apa saja yang boleh kulakukan karena Mama pasti sudah sangat berpengalaman dan aku dengan sangat sok tahu selalu mengajukan banding terhadap keputusan Mama. Kadang aku berpikir Mama ini terlalu mendramatisir kesalahan kecil yang kuperbuat tapi Mama selalu mampu menjawab semua kebingunganku bahkan ketika Mama setengah tertidur. Mama selalu menyiapkan yanng terbaik bagi kami tanpa sempat memikirkan yang terbaik baginya, setelah kami mendapat yang terbaik barulah Mama memikirkan apa yang akan dilakukannya dengan dirinya sendiri. Tapi tetap saja Mama tak pernah kehabisan ide untuk tetap jadi terrrcantik terrrhebat terrrkeren dan apapun kealpaan yang Mama lakukan, gelar yang Terbaik itu akan tetap jadi langganan Mama.
Aku menulis ini bukan karena Ini hari Ibu dan pastinya bukan hari ulangtahun Mama, kurasa ini hanyalah hari Sabtu  aku menulis ini untuk memberitahu dunia aku punya Mama yang Luarrr Biasa! Dan anak-anak seluruh dunia harus iri padaku!
 Mom
Aku menulis ini bukan karena Ini hari Ibu dan pastinya bukan hari ulangtahun Mama, kurasa ini hanyalah hari Sabtu  aku menulis ini untuk memberitahu dunia aku punya Mama yang Luarrr Biasa! Dan anak-anak seluruh dunia harus iri padaku! 
 Mom

I wish He will be the last

Photo: Mengetahui yang disampingku itu adalah Kamu saja sudah sangat membahagiakan bagiku. Ya Rabb, kumohon jangan lagi ada perubahan O:) i saw him for the first in the middle of april, maybe on 10 or 17 :3
and now, he's next to me <3


Metamorfosa

Terlahir sebagai buah cinta kedua dari sepasang suami-istri yang saling mencintai satu sama lain, berwajah menawan, dan mengerti yang terbaik untuk kehidupan buah cintanya. Aku, mendapat jatah wajah menggemaskan dengan pipi gembul dan kulit pucat dari Yang Maha Kuasa. Kendatipun pucat, tetap saja aku adalah bayi favorit ibu-ibu sekampung, langganan cubit gemas entah iri karena tak punya anak sepertiku (hehe). Tak jauh berbeda dengan kakakku, ia juga balita favorit dengan wajah kebarat-baratan yang selalu membuat orang-orang kampungku terheran-heran sekaligus berdecak kagum. Perbedaannya disini, aku gagal mempertahankan wajah putih pucat menggemaskanku ketika berstatus seorang balita. Sedangkan kakakku, tetap bertahan dengan predikat kebule-buleannya. Semua berubah ketika aku mulai menyusup dalam kehidupan bermasyarakat, ketika aku pertama kali mengenal makhluk sosial yang akan mengubah segalanya, Teman. Aku lebih suka menghabiskan berjam-jam di sawah hanya untuk melihat teman-teman laki-lakiku bermain layangan. Aku lebih menikmati hembusan angin kencang di puncak-puncak ranting pohon mangga kesayanganku menikmati pemandangan kaampungku, menantang pohon kelapa yang terlihat grogi disapa angin, sampai seseorang menyadari keberadaanku dan meneriakiku di tengah keramaian warungnya, dia nenekku yang nyentrik. Aku lebih tertarik menguji kemampuan berenang gaya anjingku di danau, sampai mana aku mampu bertahan, atau sekedar mengukur kedalaman danau yang sanggup kujangkau, atau sekedar untuk membuktikan keberadaan istana bawah danau yang selama ini menjadi bahan celotehan teman-teman sebayaku. Aku akan berhenti ketika nafasku mulai mangap-mangap, ketika otot-otot tubuhku mulai kram, dan satu-satunya gaya yang berhasil kubuat adalah gaya batu. Ya! Tenggelam dan jadi buah bibir orang sekampung (lagi). Kemudian dimarahi Mama karena kenekatanku dan tentu saja dibela Kakek karena aku anak yang tangguh dengan rasa penasaran tinggi. Daripada bermain ibu-ibuan seperti kakakku, aku lebih memilih menghabiskan hariku menjelajah hutan kecil di kampungku, mengunjungi rumah-rumah burung yang tak sempat kutanyakan mereka jenis apa, sesekali kubawa pulang telur-telur mereka untuk ku adopsi. Tak jarang dalam penjelajahanku, aku bertemu sekelompok anak nakal ketika memasuki kebun seorang warga, penasaran kemudian ikut meloncat-loncat menangkap cengkeh yang tergantung satu meter di atasku tanpa tahu kegunaannya, dan ikut berlari sekencang mungkin ketika mendengar teriakan si empunya. Tak jarang pula aku ikut nyemplung ke dalam got kotor penuh sampah dengan air nyaris kering hanya untuk menangkapi ikan-ikan yang namanya hampir menyerupai namaku  kemudian pulang dengan baju kumal yang sangat dibenci Mama. Ditambah dengan buah tangan yang kubawa, sekeluarga kucing yang kuputuskan akan ku adopsi padahal itu kucing ada pemiliknya 
Semua itu kulakukan tak sendiri, bersama teman-temanku tentunya. Alhasil, kulit putih pucatku berubah menjadi kecoklatan, tubuh gemuk dengan pipi gembulku jadi kurus kering dengan pipi kempot. Tapi satu yang berhasil kupertahankan, rambut panjang hitam legamku yang berhasil bertahan untuk jadi bahan pujian nenek-nenek di kampung 
Umur 10 tahun, aku menyadari kecantikan kakakku sudah mengalami perkembangan pesat. Dia selalu disadari kehadirannya, wajah-wajah sumringah tak habis-habis menyambutnya, selalu membuat mata para pemuda-pemuda kampung terbelalak, jadi rebutan para anak mamak untuk rencana pulang ka bako mereka. Itu pertama kalinya aku iri dalam hidupku, entah setan apa yang berhasil menjajah hatiku saat itu, aku bertekad akan menjadi Sangat Cantik, mengembalikan masa-masa kejayaanku menjadi pipi favorit sasaran cubitan ibu-ibu sekampung. Aku jadi pandai berdandan, merawat kulitku, dan update dengan segala macam trend kemudian menciptakan trend sendiri yang selalu berhasil membuatku jadi pusat perhatian. 3 hari menjadi siswa SMP, aku berhasil tanpa kusadari mencuri hati pacar temanku, membuatnya menyatakan perasaan di tengah keramaian, berhasil memikat si ketua osis yang otomatis menaikkan namaku di sekolah. Kelas 2 SMP, aku berhasil membuat teman-temanku memandangku iri ketika menangkap basah mata para gebetan mereka menatapku terpesona dan berusaha menciptakan percakapan denganku. Entah kenapa, aku menikmati tatapan-tatapan iri tersebut. Dan aku dijauhi teman-teman perempuanku saat itu. Tak jadi masalah bagiku. Aku tipe yang dapat menikmati keadaan apapun, jadi sendiri pun kunikmati. Menjelang Ujian Akhir, aku jatuh cinta pada teman lelaki sekelasku dari kelas satu yang katanya pernah menyukaiku. Oh Tuhan rasanya menyedihkan sekali! Saat yang tidak tepat untuk jatuh cinta. Setelah menamatkan pendidikan SMP, aku sudah dipersiapkan Mama untuk melanjutkan sekolah di SMA ternama di kotaku ( aku pindah ke kota ini ketika kelas 6 SD). Aku tak ambil pusing. Toh aku tak punya proposal brilian untuk menantang proposal mama. Mengantar berkas pendaftaran dengan baju seragam SMP yang ketat, sepatu putih (yang saat itu dilarang oleh panitia pendaftaran), beberapa langkah setelah masuk gerbang SMA tersebut. Segerombolan abang-abang melewatiku, memandang jahat dan melontarkan kata-kata sindiran mengenai gayaku. Aku balas tatapan sengit mereka, kemudian melenggang menyelesaikan urusanku. Kesan pertama sudah buruk. Tapi apadaya, aku diterima menjadi salah satu murid sekolah itu. Disini aku mengenal lebih dalam Islamku, dengan frekuensi pengenalan dan pendalaman terhadap agama jauh lebih besar dari yang sudah-sudah. Aku terhipnotis dengan jilbab-jilbab putih lebar yang memayungi wajah-wajah teduh kakak-kakak kelasku. Aku merasa iri sekali dengan mereka. Hingga suatu saat kucoba membeli jilbab yang menurutku lumayan lebar, dan menggunakannya ke sekolah, kurasa jilbab itu sudah cukup lebar untuk menutupi tubuhku yang tetap saja dibungkus seragam ketat  dan aku merasa berharga dalam jilbab putih lebar itu. Kemudian mulai kugunakan kaus kaki panjang hingga atas lututku untuk menutupi betisku karena kaki-kakiku sering tersingkap ketika berlari menuju kelas karena kebiasaan telatku yang terpaksa dimaklumi guru BK dan wakil kesiswaan saking parahnya. Aku merasa aman saat menggunakannya.
Dari sekedar melewati MU (Misbahul Ulum) untuk ke kantin demi menyelesaikan urusan perut, kemudian mulai nongkrong di depan MU hanya untuk sekedar bercanda dengan teman-temanku, hanya memenuhi kewajiban sholat Dzuhur saja. Kemudian mulai tertarik mencoba Dhuha setelah sekian lama bergelut dengan pemandangan itu. Entah anugerah atau apa yang kudapat saat itu, Dhuha sepertinya meracuniku, menjadi candu bagiku. Tak puas rasanya hanya menunaikan dua rakaat saja, selalu ingin nambah! Dhuha juga yang membuatku merasa mesjid menjadi seperti rumah kedua bagiku. Aku jadi lebih suka menghabiskan waktu istirahatku di MU. Tak jarang, semangat anak nakal yang masih membara dalam tubuhku membuatku membolos pelajaran. Tapi aku bukan menuju kantin, bukan melarikan diri dari sekolah. Aku menghabiskan jam bolosku di MU, mengadu pada Illahi tentang kepenatanku, atau sekedar bermanja-manja padaNya dalam Dhuhaku. 

Semua itu kulakukan tak sendiri, bersama teman-temanku tentunya. Alhasil, kulit putih pucatku berubah menjadi kecoklatan, tubuh gemuk dengan pipi gembulku jadi kurus kering dengan pipi kempot. Tapi satu yang berhasil kupertahankan, rambut panjang hitam legamku yang berhasil bertahan untuk jadi bahan pujian nenek-nenek di kampung 
Umur 10 tahun, aku menyadari kecantikan kakakku sudah mengalami perkembangan pesat. Dia selalu disadari kehadirannya, wajah-wajah sumringah tak habis-habis menyambutnya, selalu membuat mata para pemuda-pemuda kampung terbelalak, jadi rebutan para anak mamak untuk rencana pulang ka bako mereka. Itu pertama kalinya aku iri dalam hidupku, entah setan apa yang berhasil menjajah hatiku saat itu, aku bertekad akan menjadi Sangat Cantik, mengembalikan masa-masa kejayaanku menjadi pipi favorit sasaran cubitan ibu-ibu sekampung. Aku jadi pandai berdandan, merawat kulitku, dan update dengan segala macam trend kemudian menciptakan trend sendiri yang selalu berhasil membuatku jadi pusat perhatian. 3 hari menjadi siswa SMP, aku berhasil tanpa kusadari mencuri hati pacar temanku, membuatnya menyatakan perasaan di tengah keramaian, berhasil memikat si ketua osis yang otomatis menaikkan namaku di sekolah. Kelas 2 SMP, aku berhasil membuat teman-temanku memandangku iri ketika menangkap basah mata para gebetan mereka menatapku terpesona dan berusaha menciptakan percakapan denganku. Entah kenapa, aku menikmati tatapan-tatapan iri tersebut. Dan aku dijauhi teman-teman perempuanku saat itu. Tak jadi masalah bagiku. Aku tipe yang dapat menikmati keadaan apapun, jadi sendiri pun kunikmati. Menjelang Ujian Akhir, aku jatuh cinta pada teman lelaki sekelasku dari kelas satu yang katanya pernah menyukaiku. Oh Tuhan rasanya menyedihkan sekali! Saat yang tidak tepat untuk jatuh cinta. Setelah menamatkan pendidikan SMP, aku sudah dipersiapkan Mama untuk melanjutkan sekolah di SMA ternama di kotaku ( aku pindah ke kota ini ketika kelas 6 SD). Aku tak ambil pusing. Toh aku tak punya proposal brilian untuk menantang proposal mama. Mengantar berkas pendaftaran dengan baju seragam SMP yang ketat, sepatu putih (yang saat itu dilarang oleh panitia pendaftaran), beberapa langkah setelah masuk gerbang SMA tersebut. Segerombolan abang-abang melewatiku, memandang jahat dan melontarkan kata-kata sindiran mengenai gayaku. Aku balas tatapan sengit mereka, kemudian melenggang menyelesaikan urusanku. Kesan pertama sudah buruk. Tapi apadaya, aku diterima menjadi salah satu murid sekolah itu. Disini aku mengenal lebih dalam Islamku, dengan frekuensi pengenalan dan pendalaman terhadap agama jauh lebih besar dari yang sudah-sudah. Aku terhipnotis dengan jilbab-jilbab putih lebar yang memayungi wajah-wajah teduh kakak-kakak kelasku. Aku merasa iri sekali dengan mereka. Hingga suatu saat kucoba membeli jilbab yang menurutku lumayan lebar, dan menggunakannya ke sekolah, kurasa jilbab itu sudah cukup lebar untuk menutupi tubuhku yang tetap saja dibungkus seragam ketat  dan aku merasa berharga dalam jilbab putih lebar itu. Kemudian mulai kugunakan kaus kaki panjang hingga atas lututku untuk menutupi betisku karena kaki-kakiku sering tersingkap ketika berlari menuju kelas karena kebiasaan telatku yang terpaksa dimaklumi guru BK dan wakil kesiswaan saking parahnya. Aku merasa aman saat menggunakannya.
Dari sekedar melewati MU (Misbahul Ulum) untuk ke kantin demi menyelesaikan urusan perut, kemudian mulai nongkrong di depan MU hanya untuk sekedar bercanda dengan teman-temanku, hanya memenuhi kewajiban sholat Dzuhur saja. Kemudian mulai tertarik mencoba Dhuha setelah sekian lama bergelut dengan pemandangan itu. Entah anugerah atau apa yang kudapat saat itu, Dhuha sepertinya meracuniku, menjadi candu bagiku. Tak puas rasanya hanya menunaikan dua rakaat saja, selalu ingin nambah! Dhuha juga yang membuatku merasa mesjid menjadi seperti rumah kedua bagiku. Aku jadi lebih suka menghabiskan waktu istirahatku di MU. Tak jarang, semangat anak nakal yang masih membara dalam tubuhku membuatku membolos pelajaran. Tapi aku bukan menuju kantin, bukan melarikan diri dari sekolah. Aku menghabiskan jam bolosku di MU, mengadu pada Illahi tentang kepenatanku, atau sekedar bermanja-manja padaNya dalam Dhuhaku. 
Semua itu kulakukan tak sendiri, bersama teman-temanku tentunya. Alhasil, kulit putih pucatku berubah menjadi kecoklatan, tubuh gemuk dengan pipi gembulku jadi kurus kering dengan pipi kempot. Tapi satu yang berhasil kupertahankan, rambut panjang hitam legamku yang berhasil bertahan untuk jadi bahan pujian nenek-nenek di kampung 
Umur 10 tahun, aku menyadari kecantikan kakakku sudah mengalami perkembangan pesat. Dia selalu disadari kehadirannya, wajah-wajah sumringah tak habis-habis menyambutnya, selalu membuat mata para pemuda-pemuda kampung terbelalak, jadi rebutan para anak mamak untuk rencana pulang ka bako mereka. Itu pertama kalinya aku iri dalam hidupku, entah setan apa yang berhasil menjajah hatiku saat itu, aku bertekad akan menjadi Sangat Cantik, mengembalikan masa-masa kejayaanku menjadi pipi favorit sasaran cubitan ibu-ibu sekampung. Aku jadi pandai berdandan, merawat kulitku, dan update dengan segala macam trend kemudian menciptakan trend sendiri yang selalu berhasil membuatku jadi pusat perhatian. 3 hari menjadi siswa SMP, aku berhasil tanpa kusadari mencuri hati pacar temanku, membuatnya menyatakan perasaan di tengah keramaian, berhasil memikat si ketua osis yang otomatis menaikkan namaku di sekolah. Kelas 2 SMP, aku berhasil membuat teman-temanku memandangku iri ketika menangkap basah mata para gebetan mereka menatapku terpesona dan berusaha menciptakan percakapan denganku. Entah kenapa, aku menikmati tatapan-tatapan iri tersebut. Dan aku dijauhi teman-teman perempuanku saat itu. Tak jadi masalah bagiku. Aku tipe yang dapat menikmati keadaan apapun, jadi sendiri pun kunikmati. Menjelang Ujian Akhir, aku jatuh cinta pada teman lelaki sekelasku dari kelas satu yang katanya pernah menyukaiku. Oh Tuhan rasanya menyedihkan sekali! Saat yang tidak tepat untuk jatuh cinta. Setelah menamatkan pendidikan SMP, aku sudah dipersiapkan Mama untuk melanjutkan sekolah di SMA ternama di kotaku ( aku pindah ke kota ini ketika kelas 6 SD). Aku tak ambil pusing. Toh aku tak punya proposal brilian untuk menantang proposal mama. Mengantar berkas pendaftaran dengan baju seragam SMP yang ketat, sepatu putih (yang saat itu dilarang oleh panitia pendaftaran), beberapa langkah setelah masuk gerbang SMA tersebut. Segerombolan abang-abang melewatiku, memandang jahat dan melontarkan kata-kata sindiran mengenai gayaku. Aku balas tatapan sengit mereka, kemudian melenggang menyelesaikan urusanku. Kesan pertama sudah buruk. Tapi apadaya, aku diterima menjadi salah satu murid sekolah itu. Disini aku mengenal lebih dalam Islamku, dengan frekuensi pengenalan dan pendalaman terhadap agama jauh lebih besar dari yang sudah-sudah. Aku terhipnotis dengan jilbab-jilbab putih lebar yang memayungi wajah-wajah teduh kakak-kakak kelasku. Aku merasa iri sekali dengan mereka. Hingga suatu saat kucoba membeli jilbab yang menurutku lumayan lebar, dan menggunakannya ke sekolah, kurasa jilbab itu sudah cukup lebar untuk menutupi tubuhku yang tetap saja dibungkus seragam ketat  dan aku merasa berharga dalam jilbab putih lebar itu. Kemudian mulai kugunakan kaus kaki panjang hingga atas lututku untuk menutupi betisku karena kaki-kakiku sering tersingkap ketika berlari menuju kelas karena kebiasaan telatku yang terpaksa dimaklumi guru BK dan wakil kesiswaan saking parahnya. Aku merasa aman saat menggunakannya. 
Dari sekedar melewati MU (Misbahul Ulum) untuk ke kantin demi menyelesaikan urusan perut, kemudian mulai nongkrong di depan MU hanya untuk sekedar bercanda dengan teman-temanku, hanya memenuhi kewajiban sholat Dzuhur saja. Kemudian mulai tertarik mencoba Dhuha setelah sekian lama bergelut dengan pemandangan itu. Entah anugerah atau apa yang kudapat saat itu, Dhuha sepertinya meracuniku, menjadi candu bagiku. Tak puas rasanya hanya menunaikan dua rakaat saja, selalu ingin nambah! Dhuha juga yang membuatku merasa mesjid menjadi seperti rumah kedua bagiku. Aku jadi lebih suka menghabiskan waktu istirahatku di MU. Tak jarang, semangat anak nakal yang masih membara dalam tubuhku membuatku membolos pelajaran. Tapi aku bukan menuju kantin, bukan melarikan diri dari sekolah. Aku menghabiskan jam bolosku di MU, mengadu pada Illahi tentang kepenatanku, atau sekedar bermanja-manja padaNya dalam Dhuhaku. 
Semua itu kulakukan tak sendiri, bersama teman-temanku tentunya. Alhasil, kulit putih pucatku berubah menjadi kecoklatan, tubuh gemuk dengan pipi gembulku jadi kurus kering dengan pipi kempot. Tapi satu yang berhasil kupertahankan, rambut panjang hitam legamku yang berhasil bertahan untuk jadi bahan pujian nenek-nenek di kampung 
Umur 10 tahun, aku menyadari kecantikan kakakku sudah mengalami perkembangan pesat. Dia selalu disadari kehadirannya, wajah-wajah sumringah tak habis-habis menyambutnya, selalu membuat mata para pemuda-pemuda kampung terbelalak, jadi rebutan para anak mamak untuk rencana pulang ka bako mereka. Itu pertama kalinya aku iri dalam hidupku, entah setan apa yang berhasil menjajah hatiku saat itu, aku bertekad akan menjadi Sangat Cantik, mengembalikan masa-masa kejayaanku menjadi pipi favorit sasaran cubitan ibu-ibu sekampung. Aku jadi pandai berdandan, merawat kulitku, dan update dengan segala macam trend kemudian menciptakan trend sendiri yang selalu berhasil membuatku jadi pusat perhatian. 3 hari menjadi siswa SMP, aku berhasil tanpa kusadari mencuri hati pacar temanku, membuatnya menyatakan perasaan di tengah keramaian, berhasil memikat si ketua osis yang otomatis menaikkan namaku di sekolah. Kelas 2 SMP, aku berhasil membuat teman-temanku memandangku iri ketika menangkap basah mata para gebetan mereka menatapku terpesona dan berusaha menciptakan percakapan denganku. Entah kenapa, aku menikmati tatapan-tatapan iri tersebut. Dan aku dijauhi teman-teman perempuanku saat itu. Tak jadi masalah bagiku. Aku tipe yang dapat menikmati keadaan apapun, jadi sendiri pun kunikmati. Menjelang Ujian Akhir, aku jatuh cinta pada teman lelaki sekelasku dari kelas satu yang katanya pernah menyukaiku. Oh Tuhan rasanya menyedihkan sekali! Saat yang tidak tepat untuk jatuh cinta. Setelah menamatkan pendidikan SMP, aku sudah dipersiapkan Mama untuk melanjutkan sekolah di SMA ternama di kotaku ( aku pindah ke kota ini ketika kelas 6 SD). Aku tak ambil pusing. Toh aku tak punya proposal brilian untuk menantang proposal mama. Mengantar berkas pendaftaran dengan baju seragam SMP yang ketat, sepatu putih (yang saat itu dilarang oleh panitia pendaftaran), beberapa langkah setelah masuk gerbang SMA tersebut. Segerombolan abang-abang melewatiku, memandang jahat dan melontarkan kata-kata sindiran mengenai gayaku. Aku balas tatapan sengit mereka, kemudian melenggang menyelesaikan urusanku. Kesan pertama sudah buruk. Tapi apadaya, aku diterima menjadi salah satu murid sekolah itu. Disini aku mengenal lebih dalam Islamku, dengan frekuensi pengenalan dan pendalaman terhadap agama jauh lebih besar dari yang sudah-sudah. Aku terhipnotis dengan jilbab-jilbab putih lebar yang memayungi wajah-wajah teduh kakak-kakak kelasku. Aku merasa iri sekali dengan mereka. Hingga suatu saat kucoba membeli jilbab yang menurutku lumayan lebar, dan menggunakannya ke sekolah, kurasa jilbab itu sudah cukup lebar untuk menutupi tubuhku yang tetap saja dibungkus seragam ketat  dan aku merasa berharga dalam jilbab putih lebar itu. Kemudian mulai kugunakan kaus kaki panjang hingga atas lututku untuk menutupi betisku karena kaki-kakiku sering tersingkap ketika berlari menuju kelas karena kebiasaan telatku yang terpaksa dimaklumi guru BK dan wakil kesiswaan saking parahnya. Aku merasa aman saat menggunakannya. 
Dari sekedar melewati MU (Misbahul Ulum) untuk ke kantin demi menyelesaikan urusan perut, kemudian mulai nongkrong di depan MU hanya untuk sekedar bercanda dengan teman-temanku, hanya memenuhi kewajiban sholat Dzuhur saja. Kemudian mulai tertarik mencoba Dhuha setelah sekian lama bergelut dengan pemandangan itu. Entah anugerah atau apa yang kudapat saat itu, Dhuha sepertinya meracuniku, menjadi candu bagiku. Tak puas rasanya hanya menunaikan dua rakaat saja, selalu ingin nambah! Dhuha juga yang membuatku merasa mesjid menjadi seperti rumah kedua bagiku. Aku jadi lebih suka menghabiskan waktu istirahatku di MU. Tak jarang, semangat anak nakal yang masih membara dalam tubuhku membuatku membolos pelajaran. Tapi aku bukan menuju kantin, bukan melarikan diri dari sekolah. Aku menghabiskan jam bolosku di MU, mengadu pada Illahi tentang kepenatanku, atau sekedar bermanja-manja padaNya dalam Dhuhaku. 
Semua itu kulakukan tak sendiri, bersama teman-temanku tentunya. Alhasil, kulit putih pucatku berubah menjadi kecoklatan, tubuh gemuk dengan pipi gembulku jadi kurus kering dengan pipi kempot. Tapi satu yang berhasil kupertahankan, rambut panjang hitam legamku yang berhasil bertahan untuk jadi bahan pujian nenek-nenek di kampung 
Umur 10 tahun, aku menyadari kecantikan kakakku sudah mengalami perkembangan pesat. Dia selalu disadari kehadirannya, wajah-wajah sumringah tak habis-habis menyambutnya, selalu membuat mata para pemuda-pemuda kampung terbelalak, jadi rebutan para anak mamak untuk rencana pulang ka bako mereka. Itu pertama kalinya aku iri dalam hidupku, entah setan apa yang berhasil menjajah hatiku saat itu, aku bertekad akan menjadi Sangat Cantik, mengembalikan masa-masa kejayaanku menjadi pipi favorit sasaran cubitan ibu-ibu sekampung. Aku jadi pandai berdandan, merawat kulitku, dan update dengan segala macam trend kemudian menciptakan trend sendiri yang selalu berhasil membuatku jadi pusat perhatian. 3 hari menjadi siswa SMP, aku berhasil tanpa kusadari mencuri hati pacar temanku, membuatnya menyatakan perasaan di tengah keramaian, berhasil memikat si ketua osis yang otomatis menaikkan namaku di sekolah. Kelas 2 SMP, aku berhasil membuat teman-temanku memandangku iri ketika menangkap basah mata para gebetan mereka menatapku terpesona dan berusaha menciptakan percakapan denganku. Entah kenapa, aku menikmati tatapan-tatapan iri tersebut. Dan aku dijauhi teman-teman perempuanku saat itu. Tak jadi masalah bagiku. Aku tipe yang dapat menikmati keadaan apapun, jadi sendiri pun kunikmati. Menjelang Ujian Akhir, aku jatuh cinta pada teman lelaki sekelasku dari kelas satu yang katanya pernah menyukaiku. Oh Tuhan rasanya menyedihkan sekali! Saat yang tidak tepat untuk jatuh cinta. Setelah menamatkan pendidikan SMP, aku sudah dipersiapkan Mama untuk melanjutkan sekolah di SMA ternama di kotaku ( aku pindah ke kota ini ketika kelas 6 SD). Aku tak ambil pusing. Toh aku tak punya proposal brilian untuk menantang proposal mama. Mengantar berkas pendaftaran dengan baju seragam SMP yang ketat, sepatu putih (yang saat itu dilarang oleh panitia pendaftaran), beberapa langkah setelah masuk gerbang SMA tersebut. Segerombolan abang-abang melewatiku, memandang jahat dan melontarkan kata-kata sindiran mengenai gayaku. Aku balas tatapan sengit mereka, kemudian melenggang menyelesaikan urusanku. Kesan pertama sudah buruk. Tapi apadaya, aku diterima menjadi salah satu murid sekolah itu. Disini aku mengenal lebih dalam Islamku, dengan frekuensi pengenalan dan pendalaman terhadap agama jauh lebih besar dari yang sudah-sudah. Aku terhipnotis dengan jilbab-jilbab putih lebar yang memayungi wajah-wajah teduh kakak-kakak kelasku. Aku merasa iri sekali dengan mereka. Hingga suatu saat kucoba membeli jilbab yang menurutku lumayan lebar, dan menggunakannya ke sekolah, kurasa jilbab itu sudah cukup lebar untuk menutupi tubuhku yang tetap saja dibungkus seragam ketat  dan aku merasa berharga dalam jilbab putih lebar itu. Kemudian mulai kugunakan kaus kaki panjang hingga atas lututku untuk menutupi betisku karena kaki-kakiku sering tersingkap ketika berlari menuju kelas karena kebiasaan telatku yang terpaksa dimaklumi guru BK dan wakil kesiswaan saking parahnya. Aku merasa aman saat menggunakannya. 
Dari sekedar melewati MU (Misbahul Ulum) untuk ke kantin demi menyelesaikan urusan perut, kemudian mulai nongkrong di depan MU hanya untuk sekedar bercanda dengan teman-temanku, hanya memenuhi kewajiban sholat Dzuhur saja. Kemudian mulai tertarik mencoba Dhuha setelah sekian lama bergelut dengan pemandangan itu. Entah anugerah atau apa yang kudapat saat itu, Dhuha sepertinya meracuniku, menjadi candu bagiku. Tak puas rasanya hanya menunaikan dua rakaat saja, selalu ingin nambah! Dhuha juga yang membuatku merasa mesjid menjadi seperti rumah kedua bagiku. Aku jadi lebih suka menghabiskan waktu istirahatku di MU. Tak jarang, semangat anak nakal yang masih membara dalam tubuhku membuatku membolos pelajaran. Tapi aku bukan menuju kantin, bukan melarikan diri dari sekolah. Aku menghabiskan jam bolosku di MU, mengadu pada Illahi tentang kepenatanku, atau sekedar bermanja-manja padaNya dalam Dhuhaku. 



 
Copyright Just A Scratch! 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .