RSS

Selasa, 28 Oktober 2014

tak ada

Aku masih ingat bagaimana aku harus memakai celana olahraga SMPku yang sudah kusam.dan robek di kelas 2 SMA karena celana olahraga seragam SMAku tak tahu rimbanya kemana. Saat itu keluargaku menggunakan jasa tukang cuci. Aku tak percaya tante itu yang menghilangkan, dia begitu teliti. Sengaja? Tak mungkin, dia sangat baik kepada keluarga kami. Saat itu yang terpikir olehku adalah salahku kehilangan celana ini. Karena aku memang orangnya pelupa sekali. Dan kutemukan celana itu menjelang kenaikan kelas terselip diantara barang-barang bekas, penuh debu, lembab.
Aku masih ingat bagaimana rasanya menemukan sobekan kecil dari novel kesayangan sahabatku yang kupinjam untuk beberapa hari saja. Hanya sobekan itu yang dapat jadi bukti bahwa novel itu pernah ada. Terbayang wajah berseri-seri sahabatku itu ketika mengekspresikan Kecintaannya pada novel tersebut. Tak sanggup kubayangkan kecewanya jika tahu apa yang sebenarnya terjadi pada cintanya. Untuk cinta yang terbunuh itu, telah kuobrak-abrik semua toko buku di kotaku untuk menemukan kembarannya. Kusisir tumpukan novel bekas di tukang loak berharap menemukan tubuh dari sobekan nyawa itu. Nihil. Dan untuk itu aku harus rela hanya memandang sahabatku dari jauh hampir setahun. Dia menjauhiku. Bayangkan, teman pertamamu di dunia ini menjauhimu. Dan itu sebenarnya harga yang terlalu murah yang kudappat untuk sebuah kesalahan sebesar itu.
Dan hari ini, aku mendapat ancaman akan kehilangan lagi. Setelah teror-teror kecil pemanasan yang dipertontonkannya. Mulai dari peralatan makanku yang hilang, kemudian sendal jepitku, lalu entah apa lagi. Dan ancaman itu seperti menekan tombol play kemudian peristiwa-peristiwa itu berkelebat lagi di benakku. Sungguh, aku tak ada niat sama sekali menemukan pelakunya, dan tidak ingin dendam. Rasanya tak penting, sangat tidak penting. Siapapun kamu, tolong berhenti. Aku, kamu, dan apapun diantara kita, telah beranjak dewasa. Ini kekanakan sekali.

Jumat, 05 September 2014

?

Banyak sekali... Yang tertahan, kemudian terlupakan.
Tenggelam di dasar waktu. Bisu terhimpit keadaan yang berbaik hati. Tak ada yang mendengar.
Mereka terkurung.. Dibalik jeruji yang terbuat dari senyum tegar. Siapa yang melihat. Walau senyum itu berbentuk bulan sabit. Walau senyum itu memiliki celah. Mereka seperti tak kasat mata.
Kehadirannya... Tak ada yang berharap. Sosoknya mengundang dosa. Selalu dihampiri sumpah serapah memilu hati.
Dia lenyap... Tak satupun yang tahu. Siapa juga yang mau tahu. Benar-benar lenyap atau sekedar bersembunyi, bukanlah cerita menarik. Biar dia bersembunyi. Biar dia terlupakan dengan persembunyiannya. Biar dia lapuk dalam persembunyiannya.  Menyatu dengan ketiadaan.

Rabu, 04 Juni 2014

named Jeriko Widodo

Photo: Kokoo >.< :3 :* ({})
ini kucing gue jantan, maksa banget ya gue kasih dia gaun :'

Ini sebenernya cuma curcolan gue tentang perjalanan pulang dari kos ke rumahh _-_

Dan hentakan-hentakan keras musik angkot hijau memaksa membangunkan kenangan yang tertidur, merengek agar kenangan kembali bercerita. Kenangan mengiyakan, bercerita, berusaha menampilkan potongan-potongan film terbaiknya. Cerita mulai kacau ketika angkot memutuskan masuk jalan belakang, hiruk pikuk pasar seolah berusaha membumbui cerita, bau busuk tak mau kalah berusaha merusak adegan romantis yang sedang diputar kenangan. Kenangan merajuk, tak mau lagi melanjutkan cerita. Aku putuskan untuk berjalan kaki. Melirik patung-patung tak berkepala dengan pakaian terbaik mereka, kemudian membuang muka dengan pandangan meremehkan, aku jauh lebih keren! Menyusun rencana-rencana brilian pengeluaran minggu depan, kemudian melempar pandangan membunuh pada seonggok besi hitam mengkilat yang entah kenapa ikut tawar-menawar di tengah pasar raya ini  segera tertarik pada pose-pose unik pengemis di keramaian sore itu, semua makhluk tak peduli, mereka seolah tak kasat mata, kenapa kalian harus berpose? Terbersit niat untuk berbagi tapi kembali diurung, karena jangkauan terdekat hanya empat ribu sembilan ratusku yang sangat berharga. Maaf, tapi ini dari Yang Kucintai. 
Lagipula, angkot oren sudah menggodaku untuk menghampirinya. Tak berniat meminta kenangan kembali bercerita dan sepertinya angkot oren sepaham denganku. Angkot oren lebih memilih berkonsentrasi menghinakan jalanan, berlomba dengan sesama angkot oren memperebutkan posisi pertama di lampu merah. Meminta supir angkot menepi di depan sebuah gedung yang terlihat seperti babi kekenyangan. Kali ini setelah sedikit basa-basi aku duduk di dalam sebuah innova, bukan punya pacarku, aku membayar untuk dapat duduk di bangkunya, berharap innova ini bergegas membawaku pergi meninggalkan kota yang setiap tahun di php oleh isu tsunami ini. Memaksa menutup mataku agar musik yang mulai mengalun seiring deru halus mesin tak sempat merengek pada kenangan untuk kembali bercerita.

Bodohnya!

06:17, Si Gadis berusaha memisahkan kelopak matanya yang sempurna menyatu setelah percakapan-percakapan bisu tak penting tengah malam dengan pria bodoh yang berhasil meronakan pipinya beberapa hari ini. "Masih gelap" lirihnya mengintip melalui tirai jendela yang sedikit tersingkap. Padahal yang dilirik hanyalah sebuah selendang hitam yang bergelayut manja di jemuran depan kamar si Gadis. 06:23, si Gadis mendudukan diri seketika sambil berusaha memfokuskan pikiran ditengah peningnya setelah dimabuk kata-kata cinta si Bodoh Kesayangannya semalam. "Kelas Hukum Perdata jam setengah delapan!" Tandasnya histeris, entah kekuatan apa yang merasuki tubuh ringkih gadis itu, ia panik menyambar handuk dan berlari serabutan ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, kembali ia tersenyum simpul memandang lubang toilet terbayang wajah prianya. Sungguh! Cinta benar-benar suatu pembodohan yang indah!07:11, mematut dirinya di hadapan sebuah cermin mengenakan rok Batik pemberian si Bodoh, kepalanya sibuk mengarang pujian-pujian betapa elok dirinya dan membayangkan pujian-pujian tersebut datang dari bibir Pria Bodohnya, yang akan menemuinya ketika matahari mulai lelah menggersangkan Padang. 07:16, bayangan-bayangan indah tadi buyar ketika si Gadis memandangi penunjuk waktu di telepon genggamnya, sempat juga ia termenung di depan rak sepatu, "wedges atau sneaker?" Gumamnya dengan wedges dan sneaker menari berputar menggoda di atas kepalanya. Sneaker! Putusnya menyorong kaki ke dalam sneaker andalan, masih berusaha berjalan anggun dengan imajinasi-imajinasi wajah dosen baru mematut dirinya di depan kelas, membunuhnya hanya dengan pandangan 'kenapa terlambat' sang Dosen. Imajinasi-imajinasi kreatifnya ternyata hanya dibayar kursi kosong Sang Dosen
sepanjang pagi itu, apa daya. Si Gadis pulang, menyusun rencana brilian tidur siangnya mengingat kuliah kedua jam satu nanti.
Kembali semangat membaranya hanya terbayar wajah-wajah kecewa teman-teman sekelasnya siang itu. Si Gadis melongokkan kepalanya ke dalam kelas, kursi kosong Sang Dosen berhasil membalikkan tubuh si Gadis dengan kebekuannya. Si Gadis mengiyakan Ajakan seorang teman untuk menjagai rumah kedua mereka yang sedang diwarnai pria-pria baik hati entah darimana bersama tiga orang teman lainnya. Mengunyah gorengan Mandeh dan menyeruput segelas Coklat dingin tampaknya keputusan yang tepat untuk membunuh angka tiga di jam dinding, dan jarum jam akan dengan senang hati melompat ke angka empat. 16:03, tak ada kabar, sebuah PING!!! Dilayangkan si Gadis kepada Pria Bodoh Tercintanya, begitupun belasan PING!!! Selanjutnya. Undelive~ Pulang saja, dengus Si Gadis kecewa. 17:11, si Gadis kembali memandang layar telepon genggamnya dengan harapan mulai memudar seiring pudarnya dandanan paginya. "Ini yang ketiga, kali ini mati Kau!" Umpatnya membayangkan wajah si Bodohnya, memuakkan!

Apresiasi untuk MAMA :*


Aku yakin sekali, Mamaku adalah Mama terrrcantik terrrhebat terrrkeren diantara Mama-Mama tercantik terhebat terkeren di seluruh dunia ({}) Mama bangun pagi-pagi sekali berteriak mengalahkan ayam jago pak RT agar kami segera bangun dan mengejar mimpi kami. Mama sudah terbiasa menyiapkan sarapan kami sekaligus berdandan di pagi hari sebelum Beliau berkutat dengan laporan-laporan keuangannya tanpa salah memasukkan bubuk blush on ke gelas-gelas susu kami. Mama bahkan tak lupa menghalau kami ke kamar mandi di saat menyuapi bunga-bunga kesayangannya. Bukan perkara sulit bagi Mama memasak rendang, gulai ayam, ikan bakar, tanpa ketinggalan episode sinetron favoritnya. Pedagang cabe langganan Mama bahkan menyerah pada harga yang Mama inginkan ketika Mama sibuk memilah ayam mana yang akan kami santap nanti malam. Mama tak akan pernah dengan mudahnya lupa menanyai laporan jajanku minggu ini walau sedang mengawasi adikku yang bungsu memanjat atap rumah kami sekalipun  aku tak tau Mama punya sumber darimana, yang pasti Mama selalu update mengenai cowok yang sedang dekat denganku  Lucunya ekspresi Panik skala Awas Mama ketika menemukan foto aku bersama seorang lelaki di telepon genggamku padahal aku bisa pastikan kami berjarak 10,42 sentimeter di foto itu  Mama dapat dengan mudahnya memberi keputusan yang sangat keren ketika aku sedang panik memilih pakaian apa yang pantas kugunakan untuk menemui lelaki yang harus kutakhlukan  kemudian akan dengan sangat jelinya menilai lelaki yang menjemputku tanpa lelaki itu sadari. Aku bangga sekali berjalan di samping Mamaku dengan style keren ala 20annya sementara Mama-Mama lain sibuk mendandani diri mereka agar selaras dengan umur mereka. Aku tahu Mama sangat menyeleksi apa-apa saja yang boleh kulakukan karena Mama pasti sudah sangat berpengalaman dan aku dengan sangat sok tahu selalu mengajukan banding terhadap keputusan Mama. Kadang aku berpikir Mama ini terlalu mendramatisir kesalahan kecil yang kuperbuat tapi Mama selalu mampu menjawab semua kebingunganku bahkan ketika Mama setengah tertidur. Mama selalu menyiapkan yanng terbaik bagi kami tanpa sempat memikirkan yang terbaik baginya, setelah kami mendapat yang terbaik barulah Mama memikirkan apa yang akan dilakukannya dengan dirinya sendiri. Tapi tetap saja Mama tak pernah kehabisan ide untuk tetap jadi terrrcantik terrrhebat terrrkeren dan apapun kealpaan yang Mama lakukan, gelar yang Terbaik itu akan tetap jadi langganan Mama.
Aku menulis ini bukan karena Ini hari Ibu dan pastinya bukan hari ulangtahun Mama, kurasa ini hanyalah hari Sabtu  aku menulis ini untuk memberitahu dunia aku punya Mama yang Luarrr Biasa! Dan anak-anak seluruh dunia harus iri padaku!
 Mom
Aku menulis ini bukan karena Ini hari Ibu dan pastinya bukan hari ulangtahun Mama, kurasa ini hanyalah hari Sabtu  aku menulis ini untuk memberitahu dunia aku punya Mama yang Luarrr Biasa! Dan anak-anak seluruh dunia harus iri padaku! 
 Mom

I wish He will be the last

Photo: Mengetahui yang disampingku itu adalah Kamu saja sudah sangat membahagiakan bagiku. Ya Rabb, kumohon jangan lagi ada perubahan O:) i saw him for the first in the middle of april, maybe on 10 or 17 :3
and now, he's next to me <3


 
Copyright Just A Scratch! 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .